Angka 200 itu..

 

Angka ”200” itu betul-betul dalam waktu yang singkat sebentar lagi akan menggantikan kepopuleran angka keramat ”13”. Kalau angka 13 dihindari orang untuk dipakai karena dianggap menjadi sumber malapetaka, kekacauan dan nasib yang membahayakan diri. Lihat saja anda kalau naek pesawat Garuda ato pesawat domestik lainnya, pasti kita tidak menemukan ada kursi no 13. Banyak juga yang miris kalao berhadapan dengan angka 13 ini, bahkan temen-temen saya yang saya anggap kuat juga aqidahnya rada keder juga kalao ketemu angka 13..he..he.. Nah, sebaliknya angka ”200” tidak membuat keder orang. Amien Rais misalnya mengakui dengan lantang menerima uang dari Rohkmin Dahuri dalam kasus DKP melalui proses ”ijab & kabul” 4 lembar cek sebesar 200 juta rupiah

Ruaar biasa! Angka 200 telah menjadi penerus tangan-tangan Tuhan Allah SWT untuk menyelamatkan dan memperbaiki keadaan Indonesia yang sudah berdarah-darah ber-reformasi-ria sejak 1998. Sampai-sampai Prof. Satjipto Rahardjo, pakar mumpuni Sosiologi Hukum dari Universitas Diponegoro, menulis dalam HU Kompas, 23 Mei 2007, Amien Rais untuk Pembelajaran Hukum menganggapnya sebagai ”pencerahan dan terobosan”. Ini kutipannya kira-kira:

….. sebagai profesor, ia tentu akan mengatakan kepada mahasiswanya bahwa “dalam dunia akademi salah itu boleh, tetapi bohong tidak boleh.” Kredo ini yang barangkali telah turut menyelamatkan Amien Rais dari atmosfer korup di sekitarnya. Karena konon dalam politik, justru bohong itulah yang boleh…. Prof Amien Rais telah memberikan tambahan pencerahan kepada kita bahwa mengusahakan budi pekerti luhur adalah bagian sangat penting dalam membangun negara hukum yang menyejahterakan dan membahagiakan bangsanya…. Mudah-mudahan contoh yang telah diberikan oleh Amien Rais akhirnya tidak dikotori oleh politisasi. [Catatan: Sengaja saya garis bawahi sebagai artikulasi penulis]

Tergerak juga hati saya untuk menyampaikan optimisme angka ’200’ ini kepada salah seorang kawan saya, Bung Fadjroel Rachman yang selalu setia memerangi ketidakadilan dan penyelewengan. Rada kaget juga saya terhadap responnya yang tidak reaktif. Memang banyak temen saya yang rada skeptis sama gerak-gerik ”Bapak Reformasi” ini.

Ruarrr biasa.. bener juga kawan saya ini! Skeptisismenya ternyata terbukti! Dia memforward tulisannya di Kompas, 30 Mei 2007, Akhir Drama Gertak Sambal. Apa yang salah nich?

Kayaknya bukan hanya Prof. Satjipto saja yang kecewa dengan akhir drama ini. Anak saya yang paling besar yang mulai melek soal komputer dan internet sangat kecewa banget sama tokoh yang jadi fansnya ini. Mungkin pesan-pesan singkat, chating, email kekecewaanya sudah dia sebarluaskan ke kawan2nya.

Kelihatannya, harapan banyak orang untuk memperbaiki Indonesia kearah lebih baik masih jauh dari harapan. Sang ”Bapak Reformasi” ini bukan hanya “mengotori” tapi sudah “melumuri” dirinya sendiri. Tidak ada stigma “politisasi” dalam memperbaiki keadaan, yang harus ada adalah “niat yang tulus” untuk memprjuangkan kepentingan publik.

Ada angka “200” lainnya nich yang memberikan harapan pada perubahan. Banyaknya kecelakaan pesawat Boeing 737 seri 200, mudah-mudahan membawa hikmah perubahan sistem penerbangan nasional. Harapan buat Bung Jusman, Menhub yang baru. Juga ada 200 korban Lapindo yang menginap di Tugu Proklamasi untuk mengadukan nasibnya. Pengaduan sama orang hidup sudah tidak digubris lari mengadu sama Tugu Proklamasi. Seakan-akan ingin mempertanyakan kepada para founding fathers kita bahwa kemerdekaan masih jauh dari harapan. Ruaar biasa kalo dilihat nasib saudara-saudara kita ini

Salam Anarkis!

~ by digitalanarchist on June 25, 2007.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.