Test podcast!!

•January 31, 2008 • Leave a Comment

Test

Microtrends, Macro-defences

•November 15, 2007 • Leave a Comment

Ceritera sedikit soal koleksi buku baru yang saya kumpulkan dan hampir paham isinya:). Dibaca dan direnungkan dikala menjadi aktivis commuter: Osaka- Tokyo- Singapore-Jakarta-Banda Aceh-Bandung-Cimahi-Banyumas-Pangandaran-Tasikmalaya-Pulau Seribu-Kyoto. Mencerahkan tapi perlu dikritisi secara cermat.

Adanya Web 2.0 (blog, wikipedia, Flickr, etc. ) membikin semua kekuatan mainstream dan established yang berkeliaran di media, dunia akademik, bahkan para praktisi yang bergelut di industri entertainment merasa terancam tersingkirkan. Andrew Keen dengan buku The Cult of Amateurnya: How Today’s Internet is Killing Our Culture and Assaulting Our Economy, salah satu profesional yang ketakutan melihat perkembangan ini. Kehawatirannya boleh diakui seperti soal-soal privasi, pornografi dan hail lainnya seperti yang dia sebut sebaga tidak ada konteksnya. Cuman yang rada rumit memahaminya, penulisan jurnalistik itu harus seorang profesional???

Mencoba cari pemahaman secara komprehensif dan mendalam, historis dan keluar dengan teroboson-terobosoan institusi diwakili buku-bukunya Prof. Lawrence Lessig, Free Culture: The Nature and Future of Creativity, The Future of Ideas: The Fate of Commons in A Connected World.

microtrends-macrodefence.jpg

Buku-buku yang mulai membosankan untuk dibaca salah satunya buku karangannya Stiglitz soal Globalisasi, Making Globalization Work. Itu-itu aja yang dibahas dan nggak ada terobosan baru di luar dari bahasan soal kegagalan pasar, kegagalan pemerintah, etc. Tidak memberikan inspirasi bagaimana kita melihat dinamika dunia yang lagi bergejolak ini. Nach, saya anjurkan baca buku-buku ini:(1). Common Sense Economics: What Everyone Should Know About Wealth and Prosperity, karangan James Gwarttney cs . (2). The New Ruthless Economy: Work, Power in the Digital Age, karangan Simon Head (3). On Paradise Drive: How We Live Now (and Alwas Have) in The Future Tenses, karangan David Brooks (4). The White Man’s Burden: Why the West’s Efforts to Aid the Rest Have Done So Much Ill ans So Little Good, William Esterly dan ini yang rada santai dan tidak perlu kening berkerut membacanya:), bukunya Liz Perle, Money A Memoir: Women, Emotions and Cash. Dengan membaca buku-buku ini kawan-kawan akan tercerahkan dalam memahami esensi bagaimana dinamika ekonomi bekerja saat ini.

Yang lainnya ada bukunya karangan Chris Anderson: The Long Tail: How endless choice creating unlimited demand. Juga, dua buku ini jangan ditinggalkan untuk di baca:(1) Microtrends: the small forces behind tomorrow’s big changes karangan Mark J.Penn dan (2). An Army Davids: How Markets and Technology Empower Ordinary People to Beat a Big Media, Big Government and Other Goliaths, karangan Glenn Reynolds.

Nah yang mau memahami secara komprehensif dan mendasar, apa yang terjadi dalam dunia perdigitalan ini kaitannya dengan isu-su public domain, collective action, institutional economics, jangan dilupakan buku kumpulan karangan ini: Understanding Knowledge as a Commons: From Theory to Practice yang diedit oleh Charlotte Hess dan elinor Ostrom. Ini salah satu buku favorit saya di bidang yang saya tekunini saat ini di Department of Social Engineering, Graduate School of Decision Science and Technology, Tokyo Institute of Technology.

Bagi yang belon sempat baca, bisa didengerin juga beberapa rekaman mereka pas diskusi buku di authors@google di YouTube.

Angka 200 itu..

•June 25, 2007 • Leave a Comment

 

Angka ”200” itu betul-betul dalam waktu yang singkat sebentar lagi akan menggantikan kepopuleran angka keramat ”13”. Kalau angka 13 dihindari orang untuk dipakai karena dianggap menjadi sumber malapetaka, kekacauan dan nasib yang membahayakan diri. Lihat saja anda kalau naek pesawat Garuda ato pesawat domestik lainnya, pasti kita tidak menemukan ada kursi no 13. Banyak juga yang miris kalao berhadapan dengan angka 13 ini, bahkan temen-temen saya yang saya anggap kuat juga aqidahnya rada keder juga kalao ketemu angka 13..he..he.. Nah, sebaliknya angka ”200” tidak membuat keder orang. Amien Rais misalnya mengakui dengan lantang menerima uang dari Rohkmin Dahuri dalam kasus DKP melalui proses ”ijab & kabul” 4 lembar cek sebesar 200 juta rupiah

Ruaar biasa! Angka 200 telah menjadi penerus tangan-tangan Tuhan Allah SWT untuk menyelamatkan dan memperbaiki keadaan Indonesia yang sudah berdarah-darah ber-reformasi-ria sejak 1998. Sampai-sampai Prof. Satjipto Rahardjo, pakar mumpuni Sosiologi Hukum dari Universitas Diponegoro, menulis dalam HU Kompas, 23 Mei 2007, Amien Rais untuk Pembelajaran Hukum menganggapnya sebagai ”pencerahan dan terobosan”. Ini kutipannya kira-kira:

….. sebagai profesor, ia tentu akan mengatakan kepada mahasiswanya bahwa “dalam dunia akademi salah itu boleh, tetapi bohong tidak boleh.” Kredo ini yang barangkali telah turut menyelamatkan Amien Rais dari atmosfer korup di sekitarnya. Karena konon dalam politik, justru bohong itulah yang boleh…. Prof Amien Rais telah memberikan tambahan pencerahan kepada kita bahwa mengusahakan budi pekerti luhur adalah bagian sangat penting dalam membangun negara hukum yang menyejahterakan dan membahagiakan bangsanya…. Mudah-mudahan contoh yang telah diberikan oleh Amien Rais akhirnya tidak dikotori oleh politisasi. [Catatan: Sengaja saya garis bawahi sebagai artikulasi penulis]

Tergerak juga hati saya untuk menyampaikan optimisme angka ’200’ ini kepada salah seorang kawan saya, Bung Fadjroel Rachman yang selalu setia memerangi ketidakadilan dan penyelewengan. Rada kaget juga saya terhadap responnya yang tidak reaktif. Memang banyak temen saya yang rada skeptis sama gerak-gerik ”Bapak Reformasi” ini.

Ruarrr biasa.. bener juga kawan saya ini! Skeptisismenya ternyata terbukti! Dia memforward tulisannya di Kompas, 30 Mei 2007, Akhir Drama Gertak Sambal. Apa yang salah nich?

Kayaknya bukan hanya Prof. Satjipto saja yang kecewa dengan akhir drama ini. Anak saya yang paling besar yang mulai melek soal komputer dan internet sangat kecewa banget sama tokoh yang jadi fansnya ini. Mungkin pesan-pesan singkat, chating, email kekecewaanya sudah dia sebarluaskan ke kawan2nya.

Kelihatannya, harapan banyak orang untuk memperbaiki Indonesia kearah lebih baik masih jauh dari harapan. Sang ”Bapak Reformasi” ini bukan hanya “mengotori” tapi sudah “melumuri” dirinya sendiri. Tidak ada stigma “politisasi” dalam memperbaiki keadaan, yang harus ada adalah “niat yang tulus” untuk memprjuangkan kepentingan publik.

Ada angka “200” lainnya nich yang memberikan harapan pada perubahan. Banyaknya kecelakaan pesawat Boeing 737 seri 200, mudah-mudahan membawa hikmah perubahan sistem penerbangan nasional. Harapan buat Bung Jusman, Menhub yang baru. Juga ada 200 korban Lapindo yang menginap di Tugu Proklamasi untuk mengadukan nasibnya. Pengaduan sama orang hidup sudah tidak digubris lari mengadu sama Tugu Proklamasi. Seakan-akan ingin mempertanyakan kepada para founding fathers kita bahwa kemerdekaan masih jauh dari harapan. Ruaar biasa kalo dilihat nasib saudara-saudara kita ini

Salam Anarkis!

Hello world! – Mari kita lawan anarkisme digital!

•May 26, 2007 • 1 Comment

Welcome to Digital Anarchist. Blog ini dimaksudkan sebagai tempat bertukar gagasan, pengetahuan maupun mendorong berbagai upaya kolektif agar era digital ini betul-betul kita manfaatkan agar kesenjangan digital diantara kita bisa diperkecil kalaupun mungkin dihilangkan. Saya seorang teknikus. Punya pengetahuan dan hobi dalam sistem informasi geografik (GIS), penginderaan jauh(remote sensing), Decision Support Systems (DSS) lebih dari 15 tahun. Ikut bantu menerapkannya dalam soal-soal lingkungan, kehutanan, disaster management, dll. Salah satu keterlibatan saya dalam disaster management di Aceh, Yogja, Pangandaran, Banyumas dan tempat lainnya.

Kenapa namanya pake anarchist segala? Saya terinspirasi untuk memperkenalkan istilah ini setelah mengamati perilaku para pengguna berbagi media digital dan asesorinya. Kata salah seorang teman saya yang rajin mengamati statistitik web acess. Indonesia katanya yang tertinggi dalam akses situs porno he..he.

Sehari-hari kita lihat di acara infotainment – menyelesaikan konflik lewat media, semua ilmu hitam dan ilmu-ilmu jin masuk TV, aksi-aksi kekerasan, elobarasi masalah tanpa solusi yang ruaarr biasa – istilah kerennya “talk show”. Bukan hanya bad news adalah good news bagi berbagai produser berita, tapi sudah jadi “good salary” bagi para presenternya. Maka nggak heran fakta-fakta yang memilukan, orang2 yang kemalangan menjadi obyek eksploitasi digital yang luar biasa. Urusan privat dan publik seakan-akan sudah nggak ada batasnya dan campur aduk. Ruang-ruang privat seakan-akan boleh ditembus dan dieksploitasi oleh siapa saja, sebaliknya ruang-ruang publik terancam keberadaannya akibat kelompok dominan yang punya akses terhadap digital jauh mendominasi peredaran informasi.

Ingat kawan, kita negara dengan lebih dari 60,000 desa, tersebar di lebih dari 17,000 pulau. Menurut satistik katanya lebih dari 40 juta orang penghasilannya dibawah 1 USD/hari. Ngeri kali man! Bisakah dunia digital ini bisa menjadi harapan baru untuk mengangkat nasib mereka? Atau justru sebaliknya menjadi alat baru untuk menyingkirkan mereka? Jadinya, kalau di perusahaan kita punya istilah Corporate Social Responsibility(CSR), kayaknya kita juga mesti memperkenal Digital Social Responsibility. Alasannya sangat logis karena yang akan jadi sasaran semua kehidupan keseharian kita.

Optimis nggak? Kalau kata Syeikh Peter Gabriel sama Nyai Kate Bush kita jangan Don’t Give Up euy:

don’t give up
‘cos you have friends
don’t give up
you’re not beaten yet
don’t give up
I know you can make it good

Ngomong-ngomong soal harapan. Ada rasa optimisme dari kawan2 saya para pegiat di dunia digital ini, baik yang ada di Indonesia maupun di belahan bumi lainnya. Ada yang sibuk menggulirkan cara belajar kimia lewat internet. Ada Indonesia Policy Dialogue Forum (IPDF) yang memfasilitasi dialog kebijakan dan implementasi nya khususnya para peneliti di berbagai bidang yang tinggal di Jepang [webnya lagi off euy!]. Ada kawan yang mendalamin numerical analysis dalam ilmu sosial. Ada yang sibuk memburu harta Eyang Suharto di seluruh dunia lewat Suharto Inc. Buster. Dari saah seorang penggagasnya, Bung Fadjroel Rachman, katanya harta sitaan kalau didapat bisa nyumbang untuk memperkecil kesenjangan digital antar desa.he2. Ada teman yan sibuk terus memburu illegal logging. Ada yang lebih mendasar lagi yang digarap oleh salah seorang kawan lewat Jendela Ide melalui pendekatan seni dan budaya dengan target grup anak-anak dan pemuda. Juga ada temen-temen yang berexperimen dengan digital media lewat gerakan yang “uncommon” lewat Common Room nya.

Itu kira-kira posting perkenalan digital anarchist. Sedikit promosi soal peralatan dan kegiatan, penting nich untuk disebarluaskan.he2. mana tahu ada yang mau ngajak kolaborasi.

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.